BLT Untuk Para Ibu Tunggal

  • Whatsapp
BLT Untuk Para Ibu Tunggal
banner 300x250

Havana88detik – Pandemi COVID-19 telah memporak-porandakan sendi kehidupan. Perekonomian berjalan lambat, pendidikan terhambat, beban hidup semakin berat. Di tengah berbagai kepenatan yang terjadi, sebagai seorang ibu saya merasakan sedikit menghirup udara segar ketika ada masalah bantuan untuk ibu rumah tangga sebesar Rp. 2 juta; mata terbelalak dan berteriak, “Hore, akhirnya ada bantuan untuk ibu rumah tangga.”
Kebahagiaan saya hanya sesaat. Ternyata bantuan tersebut dimaksudkan sebagai bantuan kredit lunak bagi ibu rumah tangga (IRT) yang menjalankan usaha mikro. Namun jika pinjamannya lunak, artinya harus dikembalikan dan hanya segmen tertentu yang bisa mendapatkannya, yaitu IRT yang memiliki kegiatan usaha.

Hati saya membara, saya teringat nasib banyak ibu yang karena pandemi ini punya tugas ganda. Menjadi ayah dan ibu karena perceraian. Tercatat jumlah perceraian meningkat menjadi 57 ribu kasus dengan 80 persen gugatan cerai yang diajukan oleh istri terjadi pada Juni dan Juli 2020. Penyebabnya? Hal itu tak lain karena suami di-PHK dan beban istri bertambah. Jadi, jika pendampingan tidak hanya ditujukan untuk para pemilik usaha mikro, tetapi juga para ibu tunggal, tentunya setidaknya akan membuat mereka lebih lega.

Fakta bahwa sebagian besar pemicu perceraian adalah istri yang didorong oleh faktor ekonomi membuat sebagian dari kita mungkin cemberut. Beraninya para istri mengambil banyak peran dalam pandemi yang sulit ini! Apa yang membuat mereka berani mengambil keputusan ini?

Dari bincang-bincang di Whatsapp grup teman-teman sekolah lama semasa SMA, diperoleh informasi, salah satu keputusan untuk berpisah didasarkan pada pemikiran bahwa istri lebih mudah mencari pekerjaan daripada suami. Upaya lebih terbuka untuk mendapatkan penghasilan. Sedangkan suami lebih dibatasi dalam pergerakannya. Jadi, jika berpisah, beban suami istri sepertinya akan lebih ringan. Oh begitu? Bukankah itu salah?

Padahal, perceraian menjadi pilihan terakhir karena belum adanya pemahaman dalam menavigasi rumah tangga. Pengertian tersebut antara lain, ketika istri mulai “memahami” dan dipaksa menjadi tulang punggung keluarga, suami tetap tidak mau “memahami” realitas. Tetap ingin dilayani, bukan membantu istri bekerja di ranah rumah tangga.

Ya, jika memang demikian, justru ketiadaan keharmonisan yang memicu keretakan dalam rumah tangga. Kok biar gusar kalau suami sedang ongkang-ongkang kaki, istri bergumul dengan banyak peran? Alamak!

Jadi, sebenarnya perceraian tidak meringankan, tapi justru membuat beban ibu semakin berat. Apa isinya? Inilah budaya patriarki yang ada di negara kita tercinta. Sebagaimana dibenarkan, seolah wajar saja bila terjadi perceraian, beban mengurus anak dan membesarkan anak ada di tangan istri. Ini yang berbahaya.

Semangat Hari Ibu kali ini yang mengusung tema “Wanita Berdaya Indonesia Maju” terasa seperti isapan jempol. Faktanya adalah perempuan adalah makhluk yang “diberdayakan”, diberi banyak beban, tapi selalu tidak diperhatikan. Mari kembali memuliakan wanita, inilah yang mendesak dan dilupakan.

Darimana itu dimulai? Dari negara yang juga mengalokasikan anggaran Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk ibu tunggal. Bantuan tunai langsung ini akan sedikit meringankan beban, dan selanjutnya akan menjadi sehat secara mental. Para ibu tunggal ini merasa lebih mendapat perhatian dari pemerintah dengan keberadaan mereka saat ini.

Seorang ibu yang peduli akan memiliki energi untuk memberikan cinta kepada anak-anaknya saat terjadi pandemi. Anak-anak yang bahagia lebih mudah dibentuk dan dididik untuk menjadi generasi terbaik bangsa. Ya, hanya dengan mengalokasikan sedikit bantuan tunai langsung untuk ibu-ibu akan menyelamatkan generasi bangsa.

Selanjutnya, pada tataran hukum, negara dapat memberikan sanksi kepada ayah yang mengabaikan hak anaknya, disibukkan dengan ego mereka. Negara memberlakukan hukuman yang keras bagi pria yang melecehkan wanita. Dengan adanya perhatian yang lebih besar tersebut diharapkan mampu mengurangi angka kekerasan terhadap perempuan. Bisa jadi seorang satpam yang melakukan tindak kekerasan dengan memukul kepala seorang dokter wanita akan berpikir ratusan kali sebelum melakukan tindakan tersebut.

Jika kejayaan wanita dimulai dari negara, akan tercipta budaya baru yang asik dipandang mata. Ayah yang di-PHK akan menghormati istrinya yang dipaksa bekerja dengan lebih memperhatikan pekerjaan rumah tangga, kepada anak yang melakukan PJJ.

Pandemi ini harus diakhiri; kesulitan ini akan berakhir. Kesabaran kita tidak boleh dibatasi, tentu saja. Kesabaran akan terus dijaga, salah satunya munculnya perhatian terhadap mereka yang terkena pandemi dari pemerintah yaitu BLT untuk ibu tunggal. Selamat Hari Ibu 2020!

banner 300x250

Related posts

banner 300x250