Kesatuan Hati Agama di Bangka Barat, Kelenteng dan Masjid Rukun Berdampingan

  • Whatsapp
Di kota Muntok, Bangka Barat, candi dan masjid hidup berdampingan secara harmonis. Inilah bukti kerukunan umat beragama di Bangka Barat. Seperti apa ceritanya?
banner 300x250

Havana88Di kota Muntok, Bangka Barat, candi dan masjid hidup berdampingan secara harmonis. Inilah bukti kerukunan umat beragama di Bangka Barat. Seperti apa ceritanya?
Keberagaman yang ada di Kota Muntok menjadi daya tarik kota ini, terlihat dari banyaknya suku bangsa seperti Tionghoa, Melayu dan Arab yang hidup rukun dan berdampingan.

Dua bangunan tertua di Muntok ini menjadi saksi bisu kedekatan dan kerukunan antar suku, agama dan ras, yakni Kelenteng Kong Fuk Miau dan Masjid Jami’.

Bangunan ini juga menjadi ikon atau simbol kerukunan yang sudah ada sejak lama. Kelenteng Kong Fuk Miau dan Masjid Jami’ terletak dekat dengan terminal bus Kota Muntok, tepatnya di Kampung Tanjung, Bangka Barat dan hanya dipisahkan oleh gang aspal sekitar 5 m.

Dari kota Pangkalpinang dapat ditempuh kurang lebih dua setengah jam atau 138 km perjalanan darat menuju Muntok. Klenteng Kong Fuk Miau diperkirakan dibangun pada tahun 1800-an pada masa Mayor Tan Jin Men.

Candi ini merupakan salah satu candi tertua di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kuil ini dibangun oleh pekerja tambang timah dari Guang Dong dan Fu Jian, China.

Nama Kong Fuk sendiri berasal dari kata singkatan Kwang Tung (Guang Dong) dan Fuk Kian (Fu Jian) dan Miau berarti rumah para dewa. Jika digabungkan, artinya “Rumah Dewa/Kuil Orang Guang Dong dan Fu Jian”. Candi ini digunakan sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi (warisan budaya).

83 tahun kemudian, Masjid Jami’ dibangun pada 19 Muharram 1300 H pada masa pemerintahan Abang Muhammad Ali dengan gelar Temenggung Kartanegara II dan menjadi masjid tertua di Pulau Bangka.

Masjid Jami’ dibangun secara gotong royong, tidak hanya melibatkan umat Islam tetapi juga dibantu oleh masyarakat non-Muslim khususnya etnis Tionghoa. Saling pengertian dan toleransi menjadi kunci kerukunan masyarakat Bangka Barat.

Hal itu bisa dilihat dari hal-hal kecil seperti saling mengunjungi dan memeriahkan hari raya atau hari raya, juga dengan menggeser waktu ibadah.

Islam memiliki waktu wajib untuk beribadah sehingga pura akan memajukan atau menunda ibadah karena tidak memiliki waktu untuk beribadah. Perbedaan bukanlah penghalang dalam persahabatan, hanya perlu saling menghormati dan menghargai.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250