Kisah Mbah Sarmi Sembunyi Dalam Bungker Tiap KA Tiba Di Stasiun Tanggung

  • Whatsapp
 Sebagai stasiun tertua di Indonesia, Stasiun Tanggung Jawab di Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah menyimpan sejarah panjang masa penjajahan Belanda dan Jepang.
banner 300x250

Havana88 –   Sebagai stasiun tertua di Indonesia, Stasiun Tanggung Jawab di Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah menyimpan sejarah panjang masa penjajahan Belanda dan Jepang. Seorang warga yang tinggal di dekat stasiun, Mbah Sarmi, menceritakan pengalaman mengerikan yang dia alami ketika masih muda setiap kali kereta uap tiba di Stasiun Tanggung Jawab. Seperti apa ceritanya?

“Mbiyen iku granny granny suworo arem, segera podo mlayu mburi omah mlebu guwo. Mau tak mau rasanya disik ben seng neng guwo. Saya ambil nasi dulu untuk dibawa ke goa biar tidak kelaparan),” jelas Mbah Sarmi saat berbincang dengan detik.com, di rumahnya di Dusun Sendang Sari, Desa Sugih Manik, Kecamatan Responsiharjo, Kabupaten Grobogan, Senin (9/8/2021).

Read More

Nenek yang mengaku berusia sekitar 100 tahun ini masih memiliki kenangan tentang kehidupannya sebelum kemerdekaan. Sebagai warga kecil, dia yang pernah tinggal di sekitar stasiun tertua di Indonesia ini hampir setiap hari mendengar suara kedatangan kereta api yang membawa pasukan kolonial.

Karena takut ditembak atau dipaksa kerja paksa, warga yang tinggal di dekat Stasiun Tanggung jawab saat itu memilih bersembunyi di bunker sendiri. Dalam satu bunker, kata Mbah Sarmi, bisa dihuni lebih dari 5 orang. Di dalam bunker warga hanya ada meja, kursi, lampu lantai atau senter.

“Meh mbendino arem muni. Saben muni yo mlayu mburi omah mumpet nek guo, gowo mangan berkat ketukan ringan. Yang paling suwi adalah meh rong dino. Paling cepat mump yo cloud press let’s maghrib wes wani metu. (Hampir setiap hari alarm berbunyi. Setiap kali saya mendengar suara Alarmnya, Anda berlari kembali dan bersembunyi di bunker dengan makanan. Yang paling lama Anda bersembunyi adalah hampir dua hari. Tapi yang tercepat adalah bersembunyi di sore hingga sore hari setelah sholat Maghrib keluar),” katanya.

Karena tidak pernah sekolah, Mbah Sarmi bercerita bahwa hidupnya pada masa kolonial diisi dengan memasak, berkebun, dan bersembunyi dari kekuatan kolonial.

“Tidak pernah mengerti tentang tembakan atau bom. Anda tidak pernah mengerti tank nek londo iku gowo. Mbiyen yo mengerti rodone wagon pandai taline. Neng wit mengerti jenenge tank jangan sebut tank. (Tidak pernah ada suara tembakan atau bom . Tapi tidak pernah tahu ada tentara Belanda yang membawa tank. Awalnya disebut gerobak dengan roda rantai. Tapi karena saya tahu namanya tank, saya mengatakan itu, “jelasnya, mengenang masa lalu sambil makan pisang goreng ditemani segelas teh hangat.

Hingga akhirnya Mbah Sarmi mengetahui berita tentang Kemerdekaan Indonesia dari siaran radio. Setelah mendengar berita kemerdekaan, barulah Mbah Sarmi dan warga lainnya memberanikan diri menuju Stasiun Tanggungharjo atau Stasiun Tanggung.

Stasiun ini akhirnya dibuka sebagai stasiun untuk masyarakat umum. Bahkan Mbah Sarmi saat itu sering pergi ke Kota Semarang untuk berjualan kayu bakar dan daun pisang.

“Yo, saya bar mandiri, saya masih wani metu. Stasiun dodolan nek, kayu opo gowo ro godong nek Semarang. Sepure gede ireng lan dowo. Saya tidak ada koneksi nek wani mlebu lingguh. kayu bakar dan daun pisang ke Semarang Kota),” lanjutnya.

Sejarawan dan dosen Metodologi Sejarah Universitas Negeri Semarang, Prof Dr Warsino M Hum menambahkan, pergi ke Kota Semarang dengan kereta api merupakan salah satu kehidupan baru masyarakat desa pasca kemerdekaan. Penduduk desa biasanya pergi ke kota untuk menjual hasil alam, seperti kayu, daun, dan rempah-rempah.

“Di sinilah puncak kemerdekaan dan kemerdekaan pada zaman penjajahan. Dulu orang takut, lari bahkan sembunyi melihat tentara. Tapi setelah Pak Karno memproklamasikan kemerdekaan, rakyat merdeka lagi dan sampai sekarang,” kata Warsino saat berbincang dengan detikcom, Selasa (10/8).

Tentang Responsibility Station, Stasiun Tertua di RI

Warsino menjelaskan lebih lanjut tentang jalur kereta api tertua di Semarang-Solo, yang dulu dikenal sebagai daerah Surakarta.

Sebelum ada jalur kereta api, jalur perdagangan dan ekonomi ekspor ke Eropa melalui jalur darat, yang sekarang dikenal sebagai jalur tengah Semarang-Yogyakarta dan Solo-Semarang.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250