Lurah Ngaku Dianiaya Oknum TNI Saat Operasi Yustisi Di Siantar Minta Maaf

  • Whatsapp
 Kepala Desa Asuhan, Kecamatan Siantar Timur, Walmaria Zalukhu menjadi viral setelah membuat postingan yang berisi narasi bahwa ia dianiaya oleh personel TNI saat operasi peradilan terkait PPKM level 4.
banner 300x250

Havana88 –   Kepala Desa Asuhan, Kecamatan Siantar Timur, Walmaria Zalukhu menjadi viral setelah membuat postingan yang berisi narasi bahwa ia dianiaya oleh personel TNI saat operasi peradilan terkait PPKM level 4. Kepala desa kemudian meminta maaf atas viralnya cerita.

“Ya, permintaan (permintaan maaf) dan klarifikasi,” kata Camat Siantar Timur, Syaiful, saat dimintai konfirmasi, Selasa (24/8/2021).

Read More

Syaiful mengatakan, permintaan maaf disampaikan lurah karena dalam postingannya disebutkan dugaan pencabulan terjadi saat operasi peradilan. Menurut Syaiful, peristiwa itu tidak terjadi saat proses peradilan.

“Intinya postingannya di Facebook itu ada seolah-olah menyebutkan apa yang terjadi pada saat operasi peradilan. Itu benar-benar terjadi setelah itu, apakah itu berdampak atau tidak, itu ranah penyidikan,” kata Syaiful.

Dia menegaskan, dugaan penganiayaan tidak terjadi selama proses peradilan. Dia mengatakan POM terlibat dalam menyelidiki insiden itu.

Permintaan maaf tersebut juga disampaikan karena WZ merasa unggahannya sempat membuat heboh masyarakat. Kepala desa saat ini sedang menjalani perawatan setelah dugaan insiden pelecehan tersebut.

“Ya mungkin karena sempat viral jadi heboh, dia minta maaf. Masih jaga-jaga di rumah,” kata Syaiful.

Sebelumnya, unggahan berisi narasi seorang kepala desa di Kecamatan Siantar Timur, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, dianiaya personel TNI, yang viral di media sosial. Korem 022/Pantai Timur mengatakan, insiden dalam narasi viral itu masih diselidiki.

Narasi tentang penganiayaan itu ditulis di akun Facebook Walmaria Zalukhu. Dalam postingan tersebut, Walmaria Zalukhu menjelaskan kronologi kejadian versinya dan menyertakan sejumlah foto kondisinya. Salah satu foto menunjukkan luka di wajahnya.

Ia mengatakan, seorang warga Babinsa Pahae Julu, Tapanuli Utara, berinisial JS, yang seharusnya bekerja di kawasan Pahae Julu, justru membuat kegaduhan di Asuhan, Siantar Timur, Pematangsiantar. Personel TNI itu disebut-sebut keberatan dengan operasi peradilan yang melibatkan personel gabungan TNI, Polri, dan pemangku kepentingan lainnya. Peristiwa itu terjadi saat penggerebekan di PPKM level 4 Pematangsiantar pada Minggu (22/8), pukul 23.00 WIB.

JS dikatakan memiliki toko kelontong dan diingatkan oleh petugas yang melakukan operasi keadilan. Pengunggah cerita mengatakan saat itulah dia mengalami penganiayaan.

“Petugas Satgas mengingatkan untuk mematuhi protokol kesehatan dan pelaksanaan PPKM level 4 karena JS memiliki toko kelontong di rumahnya. Dia merasa tidak senang dan bertindak arogan dan menganiaya saya (Lurah Asuhan) yang mengakibatkan darah segar mengalir dari saya. hidung dan mulut. Dengan kejadian ini, saya merasa trauma. Saya meminta keadilan atas apa yang terjadi pada saya,” tulis korban dalam akun tersebut.

penjelasan TNI

Kapenrem 022/Pantai Timur, Mayor Sondang Tanjung, mengatakan hal itu sedang diselidiki oleh Badan POM. Namun, ia menampik narasi adanya Satgas yang datang ke lokasi.

“Kejadiannya tidak seperti yang diberitakan, ibu itu viral. Dugaan pemukulan itu saat ini sedang diproses di Badan POM,” kata Sondang saat dimintai konfirmasi.

Sondang menduga ada kejanggalan dalam kejadian tersebut. Ia menilai informasi antara terlapor dan pelapor tidak sinkron.

“Akar masalahnya masih rancu. Karena terlapor dan pelapor belum sinkron. Tapi salah kalau Satgas ke toko, Satgas tidak ada di sana,” kata Sondang.

Dia menduga peristiwa itu terjadi di rumah kepala desa. Saat kejadian, kata dia, lurah tersebut mengenakan pakaian biasa. Sondang menduga insiden itu mungkin sentimen pribadi.

“Ini kemungkinan sentimen pribadi, kami tidak tahu apa itu, masih dalam penyelidikan Badan POM,” kata Sondang.

Sondang menegaskan, personel TNI yang dimaksud dalam narasi viral tersebut tidak pernah memukul Satgas. Dia mengatakan kedua belah pihak telah dimintai keterangan.

Sondang mengatakan personel TNI itu masih diperiksa di Denpom. Dia mengatakan aturan harus ditegakkan jika terbukti ada pelanggaran.

“Masih diselidiki lebih lanjut di Denpom. Kalau nanti ada pelanggaran, akan diproses sesuai tingkat pelanggarannya dan sesuai ketentuan yang berlaku. Insiden personel TNI yang menabrak satgas itu tidak benar. itu urusan antara wanita ini dengan orang TNI.” Kata Sonda.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250