Modus Baru Korupsi Kasus Asabri, Cuci Uang Lewat Bitcoin

  • Whatsapp
Modus Baru Korupsi Kasus Asabri, Cuci Uang Lewat Bitcoin
banner 300x250

Havana88 – PT Asabri (Persero) yang merupakan tersangka kasus dugaan korupsi pengelolaan dana investasi dan keuangan, diduga melakukan tindakan pencucian uang melalui transaksi bitcoin.

Bitcoin merupakan mata uang kripto yang menggunakan teknologi peer-to-peer (P2P) dalam beroperasi. Bitcoin juga tanpa melalui otoritas pusat atau bank sentral, seperti mata uang sebuah negara pada umumnya.

Read More

Penerbitan dan pengelolaan transaksi bitcoin dilakukan secara kolektif oleh suatu jaringan,jadi bitcoin dirancang untuk publik, tidak ada yang menguasai bitcoin, dan semua orang dapat mengambil bagian dalam transaksi tersebut.

Penyidik ​​Kejaksaan Agung Dalam kasus Asabri, telah memanggil sejumlah pihak ikut terlibat transaksi bitcoin di Indonesia, salah satunya ialah Direktur PT Indodax Nasional Indonesia berinisial OAD. Indodax ialah merupakan perusahaan perdagangan aset kripto yang terdaftar dan legal menurut Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Penyidik ​​masih menghitung jumlah transaksi yang dilakukan oleh tersangka melalui bitcoin. Peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Gadjah Mada (Pukat UGM) Eka Nanda Ravizki menyatakan, pencucian uang melalui transaksi bitcoin merupakan modus yang relatif baru dalam kasus korupsi. Menurut dia, modus tersebut sebelumnya sudah banyak digunakan dalam kasus pendanaan terorisme maupun kasus jual beli narkoba.

Ia mengatakan, modus ini lazim digunakan karena terorisme dan narkotika merupakan kejahatan yang membutuhkan pendanaan atau transaksi keuangan ‘sembunyi-sembunyi’ sehingga tidak dapat dideteksi. Dalam kasus korupsi, menurutnya modus pencucian uang melalui transaksi bitcoin dimulai seiring dengan perkembangan teknologi yang memudahkan para pelaku kejahatan menyamarkan asetnya.

“Memang modus ini mulai lazim digunakan untuk pencucian uang dalam perkara korupsi, mengingat perkembangan IT sehingga lebih mudah untuk melaksanakan modus ini. Beda dengan sebelumnya yang membutuhkan ilmu IT tingkat lanjut,” ujarnya.

Eka berpendapat bahwa mode ini cukup efektif dalam menyembunyikan hasil kejahatan, karena model operasi bitcoin didesain tanpa otoritas pusat atau bank sentral dan konsep blockchain.

Meski sulit dideteksi, dia menilai Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) bisa melacaknya meski tidak bisa mengambil tindakan. Ia mencontohkan kasus bom Sarinah tahun 2016, PPATK mengetahui adanya aliran virtual currency ke Indonesia untuk mendanai terorisme.

Dihubungi terpisah, Yenti Garnasih, doktor hukum bidang pencucian uang, berpendapat senada. Menurutnya, pencucian uang melalui bitcoin merupakan hal baru di Indonesia.

“Kelihatannya baru, tapi sebenarnya semua harus diantisipasi. Saya kira belum pernah dilakukan di Indonesia,” ucapnya.

Ia mengatakan, untuk mengikuti modus kejahatan yang terus berkembang dari waktu ke waktu, profesionalisme penegak hukum harus terus ditingkatkan.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250