Mural Kritikan Dihapus Aparat, Seniman Grafiti Pertanyakan Hal Ini

  • Whatsapp
Maraknya mural bermuatan kritikal yang dicopot oleh pejabat pemerintah membuat para seniman mempertanyakannya. Hal utama yang dipersoalkan adalah mengapa baru sekarang penghapusan mural kritik sosial itu dihebohkan.
banner 300x250

Havana88 –    Maraknya mural bermuatan kritikal yang dicopot oleh pejabat pemerintah membuat para seniman mempertanyakannya. Hal utama yang dipersoalkan adalah mengapa baru sekarang penghapusan mural kritik sosial itu dihebohkan.

Salah satu pembahasan tersebut dibahas oleh para narasumber dalam diskusi publik bertajuk Mural dan Intimidasi yang digelar LBH Jakarta secara virtual.

Read More

Aktivis grafiti, Budi Setiawan atau lebih dikenal Budi Cole, mencontohkan mural bertuliskan 404: Tidak Ditemukan di Batuceper, Tangerang, Banten.

“Mural itu sudah ada sejak Januari dan kenapa baru dibahas hari ini. Itu juga yang kita diskusikan di masyarakat,” kata Budi Cole.

Pria yang juga aktif berkesenian di Gardu House sejak 2015 ini menambahkan, penghapusan mural sebenarnya sudah menjadi hal yang biasa di kalangan anak-anak seni jalanan. Menurutnya, ruang publik memang menjadi tempat mereka berkreasi.

“Dari dulu, sejak awal 2000-an saya selalu mengatakan itu dan kami menyadari bahwa menghapus mural di dinding jalan adalah hal yang normal. Jangan khawatir, karena biasanya tim oranye atau dinas terkait menghapusnya, itu saja. oke,” katanya. Budi Cole.

“Kebetulan saat itu insya Allah lapar, terpaksa sehat di negara sakit, lalu ada pemicu ke 404: Not Found,” sambungnya.

Saat mural fenomenal God I’m Hungry dihapus, Budi Cole pun sempat menanyakan hal tersebut kepada teman-teman Forum HSC-nya.

“Pada hari mereka bekerja, mereka dibawa ke rumahnya oleh Satpol PP, pemerintah setempat yang bersangkutan. Polisi setempat juga dipanggil untuk bertanya. Saya bertanya mengapa mereka melakukannya? Memang untuk menanggapi situasi kota. karena ini terjadi di kota mereka,” kata Budi Cole.

Sementara itu, kurator Agung Hujatnikajennong yang telah berkeliling dunia untuk menyeleksi karya seni menambahkan fenomena ini.

“Mural itu sifatnya sosial dan ada di jalanan. Kalau ingin melihat konten politik dalam pesan dan lokasinya. Sebaliknya, saya menilai jika mural itu muncul, dihapus, lalu viral, karya itu menjadi abadi. dan dikenang,” ujarnya.

Masyarakat umum yang melihat karya-karya tersebut dari media sosial, lanjutnya, mungkin merasa terkait dengan situasi saat ini.

“Pesan yang tepat di tengah situasi ini. Dihapus dan dibahas, sebenarnya di abad 21 mural tidak bisa berdiri sendiri, butuh elemen lain misalnya media sosial untuk membawa perubahan,” pungkasnya.

Pada akhir Juli lalu, sebuah mural bertuliskan “Tuhan Aku Lapar” di kawasan Kotamas, Tigaraksa, Tangerang, Banten, menjadi viral karena dihapus oleh pihak berwenang. Dari situ, satu persatu mural kritis lainnya dicopot karena dianggap mengganggu ketertiban umum dan dianggap provokatif.

Mural ‘Dipaksa Sehat di Negeri Sakit’ yang berlokasi di Pasuruan, Jawa Timur, mural ‘Wabah Nyata Adalah Kelaparan’ hingga mural ‘Dibungkam’ di bawah Jembatan Kewek, Yogyakarta.

Mural ‘Jokowi 404: Not Found’ juga mengalami hal yang sama hingga pemburunya diburu aparat.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250