Ratusan Pelajar Staf Sekolah Putri Afghanistan Dievakuasi Ke Rwanda

  • Whatsapp
Ratusan siswa, guru, dan staf Afghanistan di satu-satunya sekolah asrama putri di negara itu akan dievakuasi ke Rwanda. Evakuasi itu menyusul pengambilalihan oleh Taliban awal bulan ini.
banner 300x250

Havana88 –   Ratusan siswa, guru, dan staf Afghanistan di satu-satunya sekolah asrama putri di negara itu akan dievakuasi ke Rwanda. Evakuasi itu menyusul pengambilalihan oleh Taliban awal bulan ini.

Seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (25/8/2021), Taliban telah menjanjikan jenis aturan yang berbeda dengan rezim brutal mereka pada 1990-an, yang mencegah anak perempuan pergi ke sekolah, anak perempuan dikurung di rumah mereka, kebanyakan hiburan dilarang, dan penerapan rajam dan eksekusi publik sebagai hukuman.

Read More

Shabana Basij-Rasikh, pendiri sekolah asrama putri swasta, School of Leadership, Afghanistan (SOLA) mengatakan bahwa hampir 250 siswa remaja, guru, staf dan anggota keluarga akan pindah ke Rwanda untuk melanjutkan pendidikan mereka selama beberapa bulan ke depan.

“Semua orang sedang dalam perjalanan, melalui Qatar, ke negara Rwanda di mana kami bermaksud untuk memulai semester di luar negeri untuk semua siswa kami,” katanya di Twitter.

“Ketika kondisi di lapangan memungkinkan, kami berharap bisa kembali ke Afghanistan,” tambah Basij-Rasikh.

Di Kigali, juru bicara pemerintah Rwanda Yolande Makolo membenarkan kabar tersebut.

“Kami menyambut komunitas SOLA ke Rwanda. Kami menghormati permintaan privasi mereka sehingga tidak akan ada komentar lebih lanjut saat ini,” katanya kepada AFP.

Beberapa hari sebelumnya, Basij-Rasikh mengatakan dia telah membakar catatan pendidikan murid-muridnya, dalam upaya “untuk melindungi mereka dan keluarga mereka”.
“Siswa, kolega, dan saya selamat … Tapi sekarang, banyak yang tidak atau semakin tidak aman. Saya sedih untuk mereka,” tulisnya di situs web sekolah.

Kepala hak asasi manusia PBB pada Selasa memperingatkan bahwa perlakuan Taliban terhadap perempuan dan anak perempuan adalah “garis merah mendasar”.

Berbicara pada pembukaan sesi darurat di Afghanistan, Michelle Bachelet mendesak Taliban untuk menjaga komitmen mereka untuk menghormati hak-hak perempuan dan anak perempuan, serta etnis dan agama minoritas, dan tidak membalas.

“Tanggung jawab sekarang sepenuhnya ada pada Taliban untuk menerjemahkan komitmen ini menjadi kenyataan,” katanya.

Bachelet menambahkan bahwa kantornya telah menerima laporan yang kredibel tentang pelanggaran serius di tempat-tempat di bawah kendali Taliban, termasuk eksekusi, pembatasan hak-hak perempuan, melarang anak perempuan bersekolah dan merekrut tentara anak.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250