Saham emiten nikel terpelanting dan mendominasi jajaran saham pencetak koreksi terburuk

  • Whatsapp
Saham emiten nikel terpelanting dan mendominasi jajaran saham pencetak koreksi terburuk
banner 300x250

Havana88detik – Sentimen positif industri mobil listrik dan aki nasional telah meredup pekan ini. Emiten nikel terpuruk dan mendominasi jajaran saham top loser.
Menurut data RTI, tiga dari lima saham yang pekan ini termasuk top losers berasal dari sektor pertambangan dan pengolahan bahan baku mobil listrik, yakni INCO (PT Vale Indonesia Tbk), TINS (PT Timah Tbk). , dan ANTM (PT Aneka Tambang Tbk). .

Ketiganya turun masing-masing sebesar 15,2%, 14,9%, dan 14,8%. Dua saham lainnya bergerak di sektor perbankan dan bersama-sama dengan konsumen yaitu BBYB (PT Bank Neo Commerce Tbk) dan WIIM (PT Wismilak Inti Makmur Tbk).

Read More

Saham nikel menguat karena sentimen positif perkembangan mobil listrik. Namun, kabar buruk pekan ini menghantam pasar komoditas, di mana harga kontrak nikel 3 bulan di London Metal Exchange (LME) sempat anjlok menjadi US $ 16.191 / ton pada Kamis.

Penurunan 9,3% ini juga terjadi pada pembelian langsung nikel yang turun menjadi US $ 16.144 / ton dari harga sebelumnya US $ 17.802 / ton. Koreksi harga di LME juga mengikuti harga nikel di bursa Shanghai yang turun 9% menjadi 122.040 yuan / ton di hari yang sama. Itu merupakan level terendah sejak 9 Desember 2020.

Reuters melaporkan, penurunan harga nikel pekan ini terjadi karena Tsingshan Holding Group, raksasa nikel dan baja tahan karat China, memutuskan untuk memproduksi nikel matte secara besar-besaran di Indonesia untuk mengurangi kekhawatiran pasokan nikel di tengah persaingan penggunaan nikel untuk baterai.

Ada dua jenis nikel yang dikenal di pasaran: bahan stainless steel (kelas II) dan bahan aki mobil listrik (kelas I). Menurut DBS, permintaan nikel golongan I akan tumbuh 5,9% setiap tahun hingga 2025. Untuk periode yang sama, pasokan nikel golongan I hanya akan tumbuh 3,3%.

Sementara itu, saham BBYB insidental eksposur publik turun, yang menurut perseroan kredit bermasalah (non performing loan / NPL) gross per Desember 2020 di angka 4,05% atau lebih buruk dari rata-rata industri 3,18%.

Saham WIIM melemah di tengah munculnya wacana larangan iklan rokok di media penyiaran melalui revisi Undang-Undang (UU) Nomor 32/2002 tentang Penyiaran. Hal itu terungkap dalam diskusi yang digelar Koalisi Masyarakat Sipil Nasional untuk Pengendalian Tembakau.

“Rancangan Revisi UU Penyiaran yang diajukan Komisi I DPR kepada Badan Legislatif periode lalu sudah tentang larangan iklan rokok,” kata Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid, Jumat (5/5). 3/2021).

banner 300x250

Related posts

banner 300x250